Traveling ke Hong kong bareng travel agent sudah bolak-balik Saya lakukan. Namun ada satu hal yang selalu saya tunggu sebagai seorang travel blogger yakni perjalanan solo ke luar negeri. Rasanya berbeda ketika kita bepergian sendirian. Semua keputusan ada di tangan sendiri, mulai dari memilih penerbangan, mencari hotel, menentukan destinasi, sampai mengatur budget supaya perjalanan tetap menyenangkan tanpa membuat dompet menangis.
Salah satu perjalanan yang paling saya ingat adalah ketika saya backpacker-an dari Balikpapan ke Hong Kong selama satu minggu. Saat itu saya memilih traveling sendirian karena memang ingin santai tanpa terburu-buru dengan keinginan orang lain. Saya tak mau ribet dengan keinginan tempat wisata ataupun kuliner yang ingin saya datangi.
Hong Kong memang sudah lama masuk dalam daftar destinasi yang ingin saya kunjungi. Saya ingin menikmati suasana kotanya yang rame, naik turun stasiun MTR dan mengabadikannya dalam video maupun foto, pergi ke kota tua dengan transportasi ding-ding yang sangat murah, berjalan kaki menyusuri kawasan Kowloon, mencicipi street food, sampai melihat gemerlap Victoria Harbour.
Namun, ada satu pengalaman kecil yang justru membuat saya semakin sadar bahwa menjaga kesehatan selama traveling itu sama pentingnya dengan menyiapkan paspor dan tiket pesawat.
Apalagi perjalanan tersebut saya lakukan pada masa ketika prosedur kesehatan setelah pandemi COVID-19 masih menjadi perhatian banyak orang. Saya sempat khawatir ketika melihat kondisi mata saya mulai kering dan memerah setelah perjalanan panjang.
Untungnya, saat itu saya membawa Insto Dry Eyes di dalam tas kecil make up saya. Tanpa ragu-ragu saya segera meneteskannya waktu pergi ke Lavatory.
Berangkat dari Balikpapan, Happy Banget
Sebagai seorang travel blogger, keriuhan perjalanan dimulai bahkan sebelum pesawat lepas landas. Mulai dari persiapan di dalam rumah, di perjalanan menuju bandara segala sesuatunya tak lepas dari proses dokumentasi baik lewat video maupun foto. Dan semua itu saya lakukan sendiri ( Ya iyalah, namanya backpacker sendiri masa dibantuin orang lain )
Saya sudah menyiapkan itinerary, mencari penginapan yang murah tetapi strategis, menghitung budget makan, mengecek transportasi, sampai membuat daftar tempat yang ingin dikunjungi jauh beberapa bulan sebelumnya.
Karena ingin hemat, saya memilih konsep backpacker santai. Tidak semua tempat wisata harus dikunjungi dalam sehari. Saya justru ingin menikmati Hong Kong dengan berjalan kaki, naik MTR, duduk di taman, mencoba makanan lokal, dan sesekali berhenti untuk membuat konten.
Penerbangan dari Balikpapan tentu membutuhkan perjalanan yang cukup panjang, apalagi jika harus transit di Bandara Changi, Singapura. Berjam-jam berada di pesawat membuat saya lebih banyak menatap layar, membaca itinerary dari smartphone, menonton beberapa koleksi film dari airlines. Entahlah karena gugup atau apa Saya tidak bisa tidur sama sekali. padahal jujur mata ini sudah sangat lelah menatap layar.
Awalnya tidak ada masalah. Tetapi setelah perjalanan semakin panjang, saya mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada mata. Mata terasa sepet, perih dan lelah.
Saya pikir, "Ah, mungkin cuma kecapekan."
Namanya juga traveler. Sedikit tidak nyaman biasanya tetap dipaksakan karena sudah membayangkan destinasi yang akan dikunjungi. Ternyata saya salah.
Mata Mulai Lelah Setelah Perjalanan Panjang
Ketika mendarat di Hong Kong, saya mulai merasa mata semakin tidak nyaman. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal. Saya berkedip lebih sering. Sesekali saya mengucek mata karena terasa kering. Setelah melihat kaca kecil di toilet bandara, saya cukup kaget.
Mata saya terlihat lelah dan agak merah meski tidak separah seperti waktu di dalam pesawat.
Di sinilah saya mulai panik. Bukan karena sakitnya saja, tetapi saya langsung teringat proses pemeriksaan di bandara dan imigrasi.
Maklum, perjalanan saya dilakukan ketika prosedur dan perhatian terhadap screening kesehatan masih menjadi hal yang cukup penting setelah pandemi. Saya langsung berpikir macam-macam.
"Jangan-jangan nanti petugas imigrasi melihat mata saya merah dan menganggap saya sedang sakit?"
"Bagaimana kalau perjalanan saya malah terganggu dan malah harus di deportasi kembali ke negara asal?"
Padahal sebenarnya saya merasa kondisi tubuh baik-baik saja. Hanya mata yang terasa kering setelah perjalanan panjang.
Namun, ketika melihat mata sendiri, rasa khawatir tetap muncul.
Saat itu saya benar-benar belajar bahwa Gejala Mata Kering memang bisa terasa sederhana, tetapi situasinya bisa menjadi tidak nyaman ketika muncul di momen yang tidak kita inginkan.
Gejala Mata SePeLe Jangan Disepelein!
Mata adalah salah satu indera yang sangat penting untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Sebagai travel blogger, saya bahkan sangat bergantung pada mata.
Saya membutuhkan mata untuk membaca peta, melihat papan petunjuk jalan, mengecek Google Maps, memotret, membuat video, membaca informasi penerbangan, sampai mengedit konten. Ketika mata mulai terasa tidak nyaman, semua aktivitas tersebut ikut terganggu.
Gejala mata kering seperti Mata SEpet, PErih, LElah, atau SePeLe sering kali terasa seperti masalah kecil. Padahal, kalau muncul saat sedang traveling, efeknya bisa terasa cukup besar.
Bayangkan sedang mencari jalan menuju penginapan, tetapi mata terasa perih. Sedang mengambil foto di depan Victoria Harbour, tetapi mata terasa kering. Sedang membaca petunjuk jalan, tetapi pandangan terasa tidak nyaman.
Itulah mengapa saya sekarang selalu mengingat satu kalimat sakti dari ibu bahwa Gejala Mata SePeLe Jangan Disepelein!
Untung Ada Insto Dry Eyes di Dalam Tas
Sebenarnya saya sudah menyiapkan perlengkapan perjalanan dengan cukup lengkap dan teliti. Dan ternyata ada satu hal yang sangat berguna bak Dewa penolong saat itu yakni Insto Dry Eyes. Awalnya Saya sengaja membawanya sebagai bagian dari perlengkapan perjalanan siapa tahu nanti dibutuhkan, ternyata beneran butuh dong.
Saat mata mulai terasa kering dan tidak nyaman, saya memilih beristirahat sejenak dan meneteskan Insto Dry Eyes sesuai petunjuk penggunaan pada kemasan.
Setelah itu saya memberikan jeda waktu untuk mata beristirahat beberapa menit. Saya juga mengurangi menatap layar smartphone terlalu lama dan tidak mengucek mata. Bagi saya, keberadaan tetes mata di dalam tas ternyata sama pentingnya dengan membawa perlengkapan kecil lainnya ketika traveling.
Tentu, kondisi mata setiap orang berbeda. Jika mata merah disertai nyeri berat, gangguan penglihatan, keluar cairan yang tidak biasa, atau keluhan tidak membaik, sebaiknya mencari bantuan tenaga kesehatan dan tidak hanya mengandalkan obat tetes mata.
Akhirnya Bisa Melewati Imigrasi dengan Lebih Tenang
Setelah kondisi mata terasa lebih nyaman, saya kembali menuju area pemeriksaan imigrasi.
Jujur saja, sebelumnya saya sempat deg-degan. Saya takut mata merah membuat perjalanan menjadi rumit. Namun akhirnya proses imigrasi berjalan sebagaimana mestinya. Saya bisa melewati pemeriksaan dan akhirnya resmi menginjakkan kaki di Hong Kong sebagai seorang backpacker.
Rasanya lega sekali.
Dari situ saya menyadari satu hal jangan menunggu tubuh benar-benar tidak nyaman baru mulai memperhatikan kesehatan. Apalagi ketika traveling ke luar negeri. Kita sering kali terlalu fokus mengejar itinerary sampai lupa memberikan tubuh waktu untuk beristirahat.
Kenapa Mata Bisa Terasa Kering Saat Traveling?
Menurut pengalaman saya, ada beberapa hal selama perjalanan yang bisa membuat mata terasa lebih tidak nyaman.
Pertama adalah perjalanan panjang dengan pesawat. Udara kabin yang relatif kering dapat membuat mata terasa kurang nyaman.
Kedua, terlalu lama menatap smartphone dan laptop.
Sebagai travel blogger, saya tidak bisa lepas dari gadget. Bahkan ketika duduk di bandara saja saya sudah membuka laptop untuk mengecek itinerary dan mengedit foto.
Ketiga, kurang istirahat. Ketika traveling, rasanya sayang sekali membuang waktu hanya untuk tidur. Pagi jalan-jalan, malam masih membuat konten.
Keempat, paparan angin atau suhu cuaca lingkungan yang berbeda yang membuat mata mudah kering. Kebetulan waktu itu Saya memilih musim gugur, tidak terlalu panas atau dingin. Namun saya lupa angin yang bertiup cukup kencang apalagi ketika sedang berada di Victoria Harbour. Hal itu membuat mata terasa sangat kering.
Karena itu saya sekarang punya kebiasaan sederhana yakni lebih sering berkedip, memberi jeda dari layar, tidur cukup, menggunakan kacamata hitam saat diperlukan, tidak mengucek mata, dan membawa Insto Dry Eyes di dalam tas kemanapun pergi.
Kemasan Insto Dry Eyes Cocok Dibawa Kemana Saja
- Sangat Ringan, Ukuran botol hanya 7,5 ml sehingga tidak menambah beban tas.
- Hemat Tempat: Dimensinya kecil dan tipis, muat diselipkan di kantong celana, pouch obat, atau tas kecil.
- Anti Bocor: Menggunakan sistem tutup ulir plastik yang rapat, aman dari risiko tertekan atau bocor di dalam ransel.
Itinerary Wisata ke Hong Kong Selama 7 Hari
Setelah pengalaman yang sangat menegangkan tersebut, saya ingin membagikan itinerary yang saya gunakan untuk menikmati Hong Kong selama satu minggu dengan konsep santai, hemat, tetapi tetap bisa mendapatkan banyak pengalaman.
Hari 1 - Balikpapan - Jakarta - Singapura - Hong Kong
Dari Balikpapan saya menuju Hong Kong dengan penerbangan yang tersedia saat itu harus transit ke Jakarta, Singapura baru ke Hong Kong. Sungguh perjalanan yang melelahkan sebenarnya. Tetapi saya mencoba enjoy. Ini perjalanan yang saya impikan sejak bertahun-tahun lalu. Apalagi sempat jeda karena pandemi.
Sesampainya di Hong Kong setelah beristirahat sejenak karena mata terasa kurang nyaman saya menuju ke Proses imigrasi dan mengambil bagasi. Lalu ke parkiran bus menuju Hotel di Tsim Sha Stui menggunakan transportasi umum Bus tingkat A21 seharga HK$34. Kalau menggunakan MTR Express HK$100 lebih. Nggak papa lebih lambat sembari menikmati pemandangan Hong Kong di sore hari.
Check-in hotel, Mandi, Istirahat sejenak. Kebetulan saya membawa mie cup dan kopi susu, lumayan bisa mengganjal perut sebelum jalan santai
Malam hari jalan santai di sekitar Hotel. kebetulan sangat strategis sehingga banyak makanan street food yang bisa dicoba. Saya membeli fish ball curry, Taufu Fa (kembang tahu), Ngau Cap (jerohan daging sapi yang dimasak dengan bumbu khas Hong kong yang enak sekali) minumnya segelas Lemong cha yang seger banget.
Hari 2 Central, Park Island, The Peak
Hari kedua waktunya mulai eksplorasi. Pagi hari saya menuju kawasan Central menggunakan kapal ferry Hk$6.5. Lalu saya melanjutkan perjalanan ke Park Island dengan ferry yang berbeda Hk$15.
Disana ada replika kapal Nabi Nuh, Pantai yang indah dengan view jembatan TSing Ma serta Toko roti yang sangat terkenal di dekat dermaga. Kebetulan karena masih pagi egg tartnya baru selesai dipanggang harum sekali. Sekali duduk habis 2 egg tart, 1 polopau dan segelas moccachino coffe.
Setelah puas eksplore di Parks Island, Saya kembali ke Central, kemudian menuju area Mid-Levels Escalator. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Victoria Peak melihat view puncak pemandangan tertinggi di Hong kong, lanjut ke Madame Tussaud dan berakhir kulineran khas Thailand yang terkenal.
Sore sampai malam hari, turun kembali dan menikmati pemandangan Victoria Harbour sebelum pulang ke Hotel kembali.
Hari 3 Tsim Sha Tsui & Avenue of Stars
Hari ketiga saya memilih eksplorasi kawasan Kowloon. Dengan destinasi wisata Tsim Sha Tsui, Kowloon Park, Masjid Tsim Sha Tsui, Avenue of Stars, Victoria Harbour, Harbour City area, Clock Tower, Kowloon waterfront.
Bagi travel blogger, kawasan ini sangat menyenangkan untuk berburu foto dan video. Saya bisa berjalan santai sambil membuat konten tanpa harus berpindah tempat terlalu jauh. Saya juga menyempatkan sholat Dzuhur berjamaah di Masjid dan Malam hari bisa menikmati suasana kota dan mencari makanan murah di sekitar kawasan Kowloon. FYI, banyak makanan halal disekitar sini karena selain dekat masjid sudah pasti banyak muslimnya.
Sore hari khusus untuk menikmati sisi Hong Kong yang lebih ramai tapi hemat budget. belanja disini nggak perlu sungkan menawar dari harga yang mereka tawarkan. Saranku sih kalau berburu barang kw mending sekalian pergi ke Shenzen daripada di Ladies market karena harga dan kwalitasnya beda jauh.
Pagi hari menuju Mong Kok, Saya hanya berniat beli beberapa ganci dan kaos I Love Hongkong yang HK$100 dapat 5 pcs itu jadi okelah kalau cari di Mongkok. Selain itu tujuan utamanya adalah mengambil sebanyak-banyaknya foto dan video. Kemudian tak lupa berjalan-jalan di sekitar Ladies' Market, Tung Choi Street, Sneaker Street
Hari 4 Ocean Park
Salah satu destinasi yang menurut saya wajib masuk itinerary adalah Ocean Park Hong Kong. Tempat ini bukan sekadar theme park, tetapi juga menggabungkan wahana permainan, aquarium, konservasi satwa, hingga pemandangan indah dari atas gunung.
Meski lelah setelah perjalanan kemarin, namun tetap semangat. Saya datang sejak pagi supaya punya banyak waktu untuk mengeksplorasi. Aktivitas pertama dimulai dari The Grand Aquarium. Di sini kita bisa melihat berbagai macam kehidupan bawah laut dan menikmati area aquarium yang menjadi salah satu daya tarik utama Ocean Park.
Setelah puas melihat ikan dan biota laut, lanjut ke Giant Panda Adventure. Melihat panda yang imut sedang memakan bambu secara langsung menjadi pengalaman yang menakjubkan.
Setelah menjelajahi area Waterfront, saatnya menuju The Summit dengan menggunakan menggunakan Cable Car sambil menikmati panorama laut dan kawasan Hong Kong dari ketinggian. Alternatif lainnya adalah Ocean Express. Ocean Park sendiri memang terbagi menjadi area Waterfront dan Summit.
Buat yang suka tantangan, Summit adalah surganya wahana. Ada berbagai pilihan permainan mulai dari yang cocok untuk keluarga hingga wahana yang memacu adrenalin.
Beberapa yang bisa dicoba antara lain Hair Raiser, Arctic Blast, atau wahana lainnya sesuai keberanian masing-masing. Ocean Park memang memiliki banyak pilihan attraction, termasuk wahana keluarga dan thrill rides.
Kalau waktunya tepat, kita juga bisa menikmati Ferris Wheel dan melihat pemandangan kawasan laut dari atas. Ferris Wheel termasuk salah satu attraction yang bisa menjadi pilihan untuk menikmati suasana sore.
Sebelum benar-benar meninggalkan Ocean Park, sempatkan mampir ke area Old Hong Kong. Suasananya berbeda dari area wahana karena menghadirkan nuansa Hong Kong tempo dulu yang menarik untuk dijadikan spot foto.
Hari 5 Disneyland
Hong Kong Disneyland menjadi tempat yang wajib untuk didatangi. Saya menabung dan cukup berhemat 5 tahun belakangan untuk berhasil mewujudkan wishlist ini jadi saya sangat bahagia sekali.
Begitu masuk, jangan lupa foto di area Main Street, U.S.A. dengan latar belakang Castle of Magical Dreams. Ini salah satu spot foto yang wajib banget untuk mengabadikan momen sudah sampai di Disneyland Hong Kong. Setelah puas berfoto, waktunya berburu wahana. Beberapa area yang saya jelajahi antara lain Adventureland, Fantasyland, Tomorrowland, dan World of Frozen.
Menjelang siang saya memiih restoran dan makanan bertema Disney. Lalu bertemu dan berfoto dengan karakter Disney. Ada Mickey, Minnie dll
Sore hari biasanya menjadi waktu yang paling ditunggu. Selain melanjutkan beberapa wahana yang belum sempat dicoba, sekalian mencari tempat strategis untuk menyaksikan parade.
Karakter-karakter Disney akan muncul dan membuat suasana taman semakin meriah. Kalau ingin mendapatkan posisi yang bagus, sebaiknya datang lebih awal sebelum parade dimulai.
Setelah matahari terbenam, Disneyland Hong Kong berubah menjadi semakin cantik dengan berbagai dekorasi dan lampu. Inilah waktunya kembali ke area depan Castle of Magical Dreams untuk menikmati pertunjukan malam dan suasana Disneyland yang magical.
Hari 6 Lantau Island & Ngong Ping
Hari keenam bisa digunakan untuk menjelajahi Lantau Island, disana banyak sekali yang bisa diexplore. Ada Ngong Ping, Tian Tan Buddha, Po Lin Monastery, Tai O.
Hari 7 Pulang ke Balikpapan
Setelah sarapan, saya check-out dan menitipkan koper. Kebetulan penerbangan saya sore jadi saya sempat jalan-jalan ke Masjid Wanchai. menikmati sarapan pagi Yam cha Halal di canten dan keliling seputaran Causeway Bay ada KJRI, Restaurant dan toko Indonesia. Beneran, sejenak saya lupa kalau sedang berada di luar negeri.
Setelah itu ambil koper di hotel dan bersiap ke bandara Chep Lap Kok untuk kembali ke Balikpapan. Sebelum pulang, saya melakuan pengecekan ulang Paspor, Boarding pass, Dompet, Handphone, Charger, Power bank dan tentu saja Insto Dry Eyes. Karena saya tidak mau lagi mengalami mata kering tanpa persiapan.
Tips Menjaga Mata Tetap Nyaman Saat Traveling
Setelah pengalaman tersebut, saya punya beberapa kebiasaan yang selalu saya lakukan.
1. Jangan terlalu lama menatap layar
Saat naik pesawat atau menunggu di bandara, saya berusaha memberikan jeda dari smartphone dan laptop.
2. Jangan mengucek mata
Walaupun terasa sepet atau gatal, sebisa mungkin jangan langsung mengucek mata.
3. Ingat untuk berkedip
Ketika fokus melihat layar, kita sering lupa berkedip.
4. Istirahat yang cukup
Jangan sampai itinerary terlalu padat sampai mengorbankan waktu tidur.
5. Lindungi mata dari lingkungan
Kacamata dapat membantu ketika berada di tempat berangin atau sangat terang.
6. Bawa perlengkapan mata
Buat saya, membawa #InstoDryEyes adalah salah satu persiapan kecil yang membuat #BebasMataKering memberikan rasa lebih tenang selama perjalanan jadi urusan #MataSePeLeJanganSepelein Gunakan sesuai petunjuk pada kemasan dan jangan digunakan bersama orang lain.
Perjalanan ke Hong Kong kali ini mengajarkan kepada saya bahwa traveling bukan hanya tentang destinasi yang indah melainkan ada kesehatan mata yang juga harus diperhatikan. Dulu saya menganggap mata sepet, perih, atau lelah sebagai hal kecil yang bisa hilang sendiri.
Sekarang saya lebih sadar bahwa Gejala Mata Kering bisa membuat aktivitas traveling menjadi tidak nyaman, terutama ketika kita sedang berada di negara lain. Karena saya ingin setiap perjalanan bisa dinikmati dengan nyaman, tanpa membiarkan masalah kecil mengganggu momen yang sudah lama dinantikan. Karena ketika mata nyaman, melihat dunia pun terasa jauh lebih menyenangkan.